Saudara Perempuan Imam Ridha As
1398/9/29
Saudara Perempuan Imam Ridha As
Saudara Perempuan Imam Ridha As
Cucu Rasulullah Saw, Hajarah Khatun, saudara perempuan Imam Ridha As dan putri Imam Musa Kazim As yang wafat di kota Sanandaj dalam perjalanan Imam Ridha As ke Khurasan dan di makamkan di daerah terbilang kuno Sartpuleh kota Sanandaj Iran.

Mengenal makam cucu Rasulullah Saw, Hajarah Khatun, saudara perempuan Imam Ridha As di kota Sanandaj Iran.

Cucu Rasulullah Saw, Hajarah Khatun, saudara perempuan Imam Ridha As dan putri Imam Musa Kazim As yang wafat di kota Sanandaj dalam perjalanan Imam Ridha As ke Khurasan dan di makamkan di daerah terbilang kuno Sartpuleh kota Sanandaj Iran.

Ada sebuah mesjid di samping makam cucu Rasulullah Saw, Hajarah Khatun, dibangun oleh Mulla Ya’qub yang populer dengan nama mesjid Hajarah Khatun. Al-marhum Haji Syaikh Syukrullah ayah haji Syaikh Abdullah telah memperbagus makam tersebut dan al-marhum haji Jalali putra al-marhum Muhammad Shadiq, telah mewakafkan beberapa toko-toko di pasar Shahbazi untuk mesjid Hajarah Khatun.

Mesjid dan makam ziarah Hajarah Khatun terbilang sebagai salah satu mesjid terpenting kota Sanandaj Iran yang diperluas dan direnovasi oleh seorang ulama bernama Haji Syaikh Syukrullah yang populer dengan sebutan Shahbaz Sanah Dez dan begitu banyak wakaf diperuntukkkan untuk komponen ini.

Saya melewati pasar Kui Sartpuleh dan di sana ada sebuah pintu dengan rantai besar dan gembok-gembok yang sebagian orang ikatkan kepadanya dengan harapan hajatnya terkabul, telah menyita perhatianku.

Menggunakan ukiran-ukiran indah dan gambar-gambar bunga dan tanaman yang berkesinambungan yang dibuat oleh para ahli dan seniman besar, merupakan di antara keistimewaan tempat ini.

Pelayan tua makam keturunan nabi  telah bertahun-tahun memberikan pelayanan terhadap para tamu peziarah Khatun, semuanya datang dan pergi, tetapi Ka Ali dari subuh hingga malam terus memberikan pelayanan kepada para peziarah yang begitu ramai.

Ia bangun dari tempat duduknya dan sapu kecil berada di tangannya dan sebagaimana ketika sedang menyapu pintu masuk ke makam, melirik ke saya yang sedang berdiri di salah satu sudut pintu masuk sambil ia tertawa.

Ketika mengucapkan salam kepadanya, ia tetapi melemparkan senyuman dan terus menyapu dan menjauh dariku.

Saya masuk ke dalam tempat suci itu dan saya tidak berpikir kalau akan seramai itu. Ada sejumlah orang yang menunaikan ibadah salat, ada orang yang membaca al-Qur’an, sejumlah orang mengadukan kesulitan dan penderitaannya. Ringkasnya, setiap orang dengan sebuah tujuan hari ini datang ke Khatun Kurdistan dan mereka memohon kepada Allah kiranya hajatnya terkabul demi manusia mulia ini.

Melangkah lebih jauh ke depan, saya menyaksikan seorang perempuan muda yang anak kecilnya sedang dipeluk dan memegang erat-erat zarih dan ini membuat pandanganku tertuju padanya, air mata meliputi wajahnya sementara mulutnya ditempelkan ke zarih, ia berucap secara pelan-pelan dan pada saat ini ia dalam hati berteriak wahai Allah demi manusia ini jangan Engkau buat aku putus asa.

Ketika ia mengucapkan kata-kata ini, saya pun membungkuk kepadanya dan ia memalingkan wajahnya kepadaku dan dalam keadaan ia mengeringkan wajahnya dari air mata berkata kepadaku, demi Allah doakan pula untuk saya.

Insyallah semoga kesulitan anda mendapat solusi, Allah Maha Besar. Ini yang saya ucapkan dan saya bertanya apakah Anda penduduk Sanandaj? Tidak, saya tamu dari kota lain, saya bermimpi melihat Sayidah Khatun, saya datang dengan harapan memperoleh kesembuhan.

Wajahnya tanpak seperti bukan orang sakit, dengan demikian untuk bisa berbincang-bincang dengannya saya pun berkata semoga bencana pergi jauh-jauh. Mohon kesembuhan?

Air mata di matanya pun berhenti sementara ia melirik ke zarih dan berkata, saya terserang kanker. Setelah itu mengalir air mata dan diam.

Tubuh saya pun langsung menjadi dingin dan melihat anak dua tiga tahun yang dengan tenang tertidur di bahu sang ibu dan sejenak saya larut menghilang.

Seorang nenek-nenek duduk di salah satu sudut haram dan sambil memegang tasbih membaca zikir-zikir dengan cepat. Saya pun mendatanginya dan mengucapkan salam serta berbincang-bincang dengannya.

Dengan melirik ke saya sambil menjawab salamku, ia bertanya apakah anda seorang musafir? Telah banyak yang datang dan bertawassul kepada Sayidah Khatun dan semua hajatnya terkabul.

Telah bertahun-tahun, setiap hari senin dan kamis, di manapun saya berada, tetap berupaya untuk datang  berziarah ke Sayidah Khatun dan berjam-jam saya menyaksikan para peziarah yang datang untuk ziarah dan bertawassul kepada Sayidah Hajar Khatun.

 

Saya telah Menyaksikan Begitu Banyak Karamah Sayidah Hajar Khatun

Ketika ia mengucapkan kata-kata ini, air matapun mengalir dari mata Maryam dan untuk sejenak dia berdiam diri.

Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri begitu banyak orang-orang sakit mendapat kesembuhan dan orang-orang yang dipenjara bebas dari kurungannya dengan berwasilah kepada Sayidah Khatun di tempat suci ini.

Saya mengenal perempuan muda itu yang setiap seminggu, dua tiga kali datang berziarah ke makam suci ini, ia berjam-jam membaca al-Qur’an dan meneteskan air mata untuk kesembuhan ibunya yang sedang menderita sakit. Suatu hari ia datang ke makam suci ini dengan membawa beberapa kotak kue dan berkata, “Sayidah Khatun telah menjadi sebab kesembuhan ibuku.”

Tiap hari datang dan menangis berjam-jam, seorang perempuan setengah baya yang anaknya dua tahun lalu dikarenakan janji dan ancaman teman-temannya mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap seorang pemuda dan sedang berada di penjara. Untuk selamat dari hukuman gantung, ia datang ke Sayidah Khatun bertawasul.

Beberapa waktu lalu dengan kerelaan keluarga yang terbunuh, anaknya terbebaskan dari hukuman gantung.

Air mata ibu anak muda ini setelah pembebasan anaknya dari hukuman gantung adalah sebuah harapan bagi mereka yang ingin terkabul hajatnya lalu datang berziarah ke makam Sayidah Khatun.

Setelah mengucapkan semua ini, ia pun kembali melilitkan cadurnya dan keluar dari pintu haram Sayidah Khatun.

Keberadaan makam Hajarah Khatun di Sanandaj merupakan sebuah tempat untuk berdoa, bernazar dan bertawasul memohon hajat penduduk provinsi ini dan para peziarah Sayidah Khatun yang mulia ini. Dan ia merupakan representasi nyata kecintaan Ahlusunnah terhadap Rasulullah Saw dan para Imam Ma’shum As.

Semoga para musafir dan pengunjung yang ingin datang ke provinsi Kurdistan Iran khususnya ke kota Sanandaj, juga menyempatkan diri untuk berziarah ke makam suci Sayidah Hajarah Khatun dan bertawasul kepadanya untuk terkabulnya segala hajat dan keinginannya.